Web Mahasiswa

Berpacu menjadi yang terbaik

LCS

07 October 2013 - dalam Umum Oleh rakhmatul-binti-fk12

LIQUOR CEREBRO SPINALIS (LCS)

·         Produksi LCS:
–        70% à pleksus khoroid ventrikel (proses sekresi aktif dan ultrafiltrasi dari plasma)
–        30% à cairan interstitial (ruang interseluler otak dan sumsum tulang belakang)
·         Fungsi LCS :
–        Menerima hasil metabolisme otak dan SSP (Susunan saraf pusat)
–        Memberikan nutrisi pada SSP
–        Sebagai bantalan
–        Sebagai regulator TIK (Tekanan Intra Kranial)
·         Blood Brain Barier : Kemampuan otak untuk mempertahankan masuknya zat-zat yang mempunyai BM besar
·         Komposisi LCS : NA, K, urea, as. Laktat, sulfonamid
·         LCS tidak mengandung : bilirubin, fibrinogen, Ig (imunoglobulin)à BM besar Internal
·         Mekanisme Aliran LCS
o   Internal sistem :
§  Ventrikel lateralis (I & II)
                                                  ↓   dihub oleh Foramen Interventrikel (For. Monroe)
§  Ventrikel tertius (III)
                                                                          ↓  dihub oleh Aquaduktus Sylvii
§  Ventrikel quartus (IV)
o   External sistem :
§  Ruang subarachnoid
§  Cisterna
§  Cerebrum
§  Medula spinalis
Internal sistem dengan External sistem dihub oleh For. Luschka & Magendi
l  Volume total LCS : 90 – 150 ml (org dws)
–        ventrikel : 20 ml
–        sisterna subarakhnoid : 60 ml
–        kanalis spinalis : 70 ml
l  Kecepatan formasinya : 500 ml/hari atau 20 ml/jam
l  Produksi LCS ↑ : hydrosephalus
l  Cara pengambilan :
–        Pungsi lumbal à L2-L3 atau L3-L4 (Hanya terdapat filum terminale sehingga kemungkinan melukai system saraf adalah kecil)
l  Volume LCS untuk pemeriksaan antara 15 sampai 20 ml, dibagi dalam 3 buah tabung steril:
–        Tabung I à untuk analisa kimia, serologi, dan pemeriksaan khusus misalnya imunologi.
–        Tabung II à untuk analisa bakteriologi.
–        Tabung III à untuk analisa mikroskopis sel
l  Syarat pemeriksaan :
                Dilakukan dlm wkt < 30’, karena bila > 30’ jml sel akan berkurang yang disebabkan:
–        Sel mengalami sitolisis
–        Sel akan mengendap, shg sulit mendapat sampel yang homogen
–        Sel terperangkap dalam bekuan
–        Sel cepat mengalami perubahan morfologi
Macam pemeriksaan :
a.       Pemeriksaan Rutin
                                - makroskopis
                                - mikroskopis
                                - kimia
                                - bakteriologi
b.      Pemeriksaan Fisik
                                - tekanan
c.       Pemeriksaan Khusus
                                - elektroforesa protein
                                - imunoelektroforesa
                                - serologi
                                - imunoglobulin
l  Pemeriksaan makroskopis meliputi
–        Warna
–        Kekeruhan
–        pH
–        Konsistensi (bekuan)
–        Berat jenis
l  Warna
Normal warna LCS tampak jernih, ujud dan viskositasnya sebanding air.
–        Merah muda → perdarahan trauma akibat pungsi
–        Merah tua atau coklat → perdarahan subarakhnoid akibat hemolisis dan akan terlihat jelas sesudah disentrifuge
–        Hijau atau keabu-abuan →  pus
–        Coklat → terbentuknya methemalbumin pada hematoma subdural kronik
–        Xanthokromia → (kekuning-kuningan) pelepasan hemoglobin dari eritrosit yang lisis (perdarahan intraserebral/subarachnoid); juga disebabkan oleh kadar protein tinggi (> 200 mg/dl)
–        Kekeruhan
–        Normal → tidak ada kekeruhan atau jernih. Walaupun demikian LCS yang jernih terdapat juga pada meningitis luetika, tabes dorsalis, poliomyelitis, dan meningitis tuberkulosa.
–        Keruh  → ringan seperti kabut mulai tampak jika
–        lekosit 200-500/ul3
–        eritrosit > 400/ml
–        mikroorganisme (bakteri, fungi, amoeba)
–        aspirasi lemak epidural sewaktu dilakukan pungsi
–        media kontras radiografi.
–        Konsistensi bekuan
–        Bekuan à banyak darah masuk
–        Normal → tidak terlihat bekuan
–        Bekuan → banyaknya fibrinogen yang berubah menjadi fibrin.
                Disebabkan: trauma pungsi, meningitis supurativa, atau meningitis tuberkulosa.
                Jendalan sangat halus à LCS didiamkan di dalam almari es selama 12-24 jam.
Analisa Laboratorium
l  Metode : perbandingan dengan aquadest secara visual
l  Prinsip : pada keadaan normal wujud LCS seperti air, dengan membandingkannya dapat dinilai adanya perubahan ujud LCS.
l  Peralatan yang dipergunakan :
–        Tabung reaksi
–        Kertas putih
l  Tata cara pemeriksaan :
–        Tabung reaksi diisi aquadest secukupnya sebagai pembanding.
–        Contoh bahan diisikan pada tabung reaksi yang sama ukurannya dengan pembanding.
–        Kedua tabung diletakkan berdekatan dengan latar belakang kertas putih.
–        Bandingkan contoh bahan dengan aquadest.
l  Tata cara pembacaan hasil :
–        Warna
–        Kejernihan / kekeruhan
•          0 = jernih
•          + 1 = berkabut
•          + 2 = kekeruhan ringan
•          + 3 = kekeruhan nyata
•          + 4 = sangat keruh
–        Bekuan, tidak ada (negatif) atau ada bekuan (positif)
PEMERIKSAAN MIKROSOKOPIS
l  Eritrosit dan leukosit masuk ke dalam LCS à ada kerusakan pada pembuluh darah atau sebagai akibat reaksi terhadap iritasi.
l  Perhitungan sel lekosit dan eritrosità segera dilakukan ( 40% dari lekosit lisis setelah 2 jam, Eritrosit lisis setelah 1 jam pada suhu ruangan)
                DD: trama pungsi vs hemorhagi subarakhnoid
l  Nilai rujukan normal jumlah lekosit (monosit dan limposit) adalah
–        Anak & dewasa : 0 – 5 sel/ul
–        neonatus 0 – 30 sel/ul
                                                                                                ----------à Tidak Dilakukan
Analisa Laboratorium Jumlah Leukosit
l  Metode : bilik hitung Improved Neubauer
l  Prinsip : LCS diencerkan dalam perbandingan tertentu dan lekosit dihitung dalam volume tertentu.
l  Alat yang dipakai :
–        Pipet lekosit
–        Bilik hitung Improved Neubauer
–        Tabung reaksi kecil
–        Mikroskop
l  Reagen yang dipakai : larutan Turk
l  Tata cara pemeriksaan
–        Kocoklah dengan perlahan-lahan LCS yang akan diperiksa.
–        Isaplah larutan Turk dengan pipet lekosit sampai tanda 1 (satu).
–        Kemudian LCS dihisap sampai tanda 11 dan seterusnya dikocok.
–        Letakkan kaca penutup di atas bilik hitung.
–        Larutan LCS yang ada dalam pipet lekosit dibuang antara 2-3 tetes, kemudian diteteskan pada bilik hitng hingga bidang-bidang pada bilik hitung terisi. Diamkan lebih kurang 5 menit dalam posisi datar.
–        Kemudian diperiksa dalam mikroskop cahaya dengan pembesaran lensa obyektif 10 X
–        Hitung semua lekosit yang terdapat pada 9 (sembilan) bidang besar.
PEMERIKSAAN KIMIA
l  Analisa kimia LCS à membantu diagnosis / menilai prognosis. Pemeriksaan rutin :
–        penetapan protein secara kualitatif
–        kadar protein
–        kadar glukosa
ANALISA LABORATORIUM PROTEIN KUALITATIF
l  Keadaan normalà cairan otak mengandung sedikit sekali protein (BM besar).
l  Perbandingan antara albumin dan globulin > LCS daripada dalam plasma (molekul albumin >kecil)
l  Konsentrasi protein ↑ :
–        Permeabilitas sawar darah-otak ↑ oleh radang
–        Meningitis yang berat
A. TEST PANDY
l  Prinsip : reagen pandy memberikan reaksi terhadap protein (albumin dan globulin) dalam bentuk kekeruhan. Pada keadaan normal tidak terjadi kekeruhan atau kekeruhan yang ringan seperti kabut.
l  Alat dan reagen yang dipakai
–        Tabung serologi (garis tengah 7 mm)
–        Kertas putih
–        Reagen Pandy (larutan phenol jenuh dalam air)
l  Tata cara pemeriksaan :
–        Ke dalam tabung serologi dimasukkan 1 ml reagen Pandy
–        Tambahkan 1 tetes LCS
–        Kemudian dilihat segera ada tidaknya kekeruhan.
l  Tata cara pembacaan hasil
–        Negatif : tidak ada kekeruhan
–        Positif : terlihat kekeruhan yang jelas
•          +1           : opalescent (kekeruhan ringan seperti kabut)
•          +2           : keruh
•          +3           : sangat keruh
•          +4           : Kekeruhan seperti susu
Nilai normal          : (-) / (+1)
TEST NONNE APELT
l  Prinsip : reagen Nonne memberikan reaksi terhadap protein globulindalam bentuk kekeruhan yang berupa cincin. Ketebalan cincin àberhubungan dengan kadar globulin, makin tinggi kadarnya maka cincin yang terbentuk makin tebal.
 Alat dan reagen yang dipakai :
–        Tabung serologi (garis tengah 7 mm)
–        Reagen Nonne (larutan ammonium sulfat jenuh dalam air)
l  Tata cara pemeriksaan :
–        Ke dalam tabung serologi dimasukkan 1 ml reagen Nonne
–        Tambahkan 1 ml LCS dengan cara pelan-pelan sehingga terbentuk 2 lapisan, di mana lapisan atas adalah LCS. Diamkan selama 3 menit.
–        Kemudian dilihat pada perbatasan kedua lapisan dengan latar belakang gelap.
l  Tata cara pembacaan hasil :
–        Negatif : tidak terbentuk cincin antara kedua lapisan
–        +1 : cincin yang terbentuk menghilang setelah dikocok (tidak ada bekasnya).
–        +2 : setelah dikocok terjadi opalesensi
–        +3 : mengawan setelah dikocok
l  Normal : (-)
GLUKOSA
l  Menyusutnya kadar glukosa dalam LCS à meningitis purulenta (metabolisme leukosit & bakteri ↓ kadar glukosa à 0).
l  Semua mikroorganisme menggunakan glukosaà pe↓ kadar glukosa dapat disebabkan oleh : fungi, protozoa, bakteri tuberculosis, dan bakteri piogen.
l  Meningitis oleh virus à sedikit me↓ kadar glukosa dalam LCS.
ASAM LAKTAT
l  Konsentrasi asam laktat à aktifitas glikolisis setempat.
l  Kadar asam laktat > 35 mg/dl àjarang terjadi kecuali pada meningitis oleh bakteri atau fungi.LIQUOR CEREBRO SPINALIS (LCS)
·         Produksi LCS:
–        70% à pleksus khoroid ventrikel (proses sekresi aktif dan ultrafiltrasi dari plasma)
–        30% à cairan interstitial (ruang interseluler otak dan sumsum tulang belakang)
·         Fungsi LCS :
–        Menerima hasil metabolisme otak dan SSP (Susunan saraf pusat)
–        Memberikan nutrisi pada SSP
–        Sebagai bantalan
–        Sebagai regulator TIK (Tekanan Intra Kranial)
·         Blood Brain Barier : Kemampuan otak untuk mempertahankan masuknya zat-zat yang mempunyai BM besar
·         Komposisi LCS : NA, K, urea, as. Laktat, sulfonamid
·         LCS tidak mengandung : bilirubin, fibrinogen, Ig (imunoglobulin)à BM besar Internal
·         Mekanisme Aliran LCS
o   Internal sistem :
§  Ventrikel lateralis (I & II)
                                                  ↓   dihub oleh Foramen Interventrikel (For. Monroe)
§  Ventrikel tertius (III)
                                                                          ↓  dihub oleh Aquaduktus Sylvii
§  Ventrikel quartus (IV)
o   External sistem :
§  Ruang subarachnoid
§  Cisterna
§  Cerebrum
§  Medula spinalis
Internal sistem dengan External sistem dihub oleh For. Luschka & Magendi
l  Volume total LCS : 90 – 150 ml (org dws)
–        ventrikel : 20 ml
–        sisterna subarakhnoid : 60 ml
–        kanalis spinalis : 70 ml
l  Kecepatan formasinya : 500 ml/hari atau 20 ml/jam
l  Produksi LCS ↑ : hydrosephalus
l  Cara pengambilan :
–        Pungsi lumbal à L2-L3 atau L3-L4 (Hanya terdapat filum terminale sehingga kemungkinan melukai system saraf adalah kecil)
l  Volume LCS untuk pemeriksaan antara 15 sampai 20 ml, dibagi dalam 3 buah tabung steril:
–        Tabung I à untuk analisa kimia, serologi, dan pemeriksaan khusus misalnya imunologi.
–        Tabung II à untuk analisa bakteriologi.
–        Tabung III à untuk analisa mikroskopis sel
l  Syarat pemeriksaan :
                Dilakukan dlm wkt < 30’, karena bila > 30’ jml sel akan berkurang yang disebabkan:
–        Sel mengalami sitolisis
–        Sel akan mengendap, shg sulit mendapat sampel yang homogen
–        Sel terperangkap dalam bekuan
–        Sel cepat mengalami perubahan morfologi
Macam pemeriksaan :
a.       Pemeriksaan Rutin
                                - makroskopis
                                - mikroskopis
                                - kimia
                                - bakteriologi
b.      Pemeriksaan Fisik
                                - tekanan
c.       Pemeriksaan Khusus
                                - elektroforesa protein
                                - imunoelektroforesa
                                - serologi
                                - imunoglobulin
l  Pemeriksaan makroskopis meliputi
–        Warna
–        Kekeruhan
–        pH
–        Konsistensi (bekuan)
–        Berat jenis
l  Warna
Normal warna LCS tampak jernih, ujud dan viskositasnya sebanding air.
–        Merah muda → perdarahan trauma akibat pungsi
–        Merah tua atau coklat → perdarahan subarakhnoid akibat hemolisis dan akan terlihat jelas sesudah disentrifuge
–        Hijau atau keabu-abuan →  pus
–        Coklat → terbentuknya methemalbumin pada hematoma subdural kronik
–        Xanthokromia → (kekuning-kuningan) pelepasan hemoglobin dari eritrosit yang lisis (perdarahan intraserebral/subarachnoid); juga disebabkan oleh kadar protein tinggi (> 200 mg/dl)
–        Kekeruhan
–        Normal → tidak ada kekeruhan atau jernih. Walaupun demikian LCS yang jernih terdapat juga pada meningitis luetika, tabes dorsalis, poliomyelitis, dan meningitis tuberkulosa.
–        Keruh  → ringan seperti kabut mulai tampak jika
–        lekosit 200-500/ul3
–        eritrosit > 400/ml
–        mikroorganisme (bakteri, fungi, amoeba)
–        aspirasi lemak epidural sewaktu dilakukan pungsi
–        media kontras radiografi.
–        Konsistensi bekuan
–        Bekuan à banyak darah masuk
–        Normal → tidak terlihat bekuan
–        Bekuan → banyaknya fibrinogen yang berubah menjadi fibrin.
                Disebabkan: trauma pungsi, meningitis supurativa, atau meningitis tuberkulosa.
                Jendalan sangat halus à LCS didiamkan di dalam almari es selama 12-24 jam.
Analisa Laboratorium
l  Metode : perbandingan dengan aquadest secara visual
l  Prinsip : pada keadaan normal wujud LCS seperti air, dengan membandingkannya dapat dinilai adanya perubahan ujud LCS.
l  Peralatan yang dipergunakan :
–        Tabung reaksi
–        Kertas putih
l  Tata cara pemeriksaan :
–        Tabung reaksi diisi aquadest secukupnya sebagai pembanding.
–        Contoh bahan diisikan pada tabung reaksi yang sama ukurannya dengan pembanding.
–        Kedua tabung diletakkan berdekatan dengan latar belakang kertas putih.
–        Bandingkan contoh bahan dengan aquadest.
l  Tata cara pembacaan hasil :
–        Warna
–        Kejernihan / kekeruhan
•          0 = jernih
•          + 1 = berkabut
•          + 2 = kekeruhan ringan
•          + 3 = kekeruhan nyata
•          + 4 = sangat keruh
–        Bekuan, tidak ada (negatif) atau ada bekuan (positif)
PEMERIKSAAN MIKROSOKOPIS
l  Eritrosit dan leukosit masuk ke dalam LCS à ada kerusakan pada pembuluh darah atau sebagai akibat reaksi terhadap iritasi.
l  Perhitungan sel lekosit dan eritrosità segera dilakukan ( 40% dari lekosit lisis setelah 2 jam, Eritrosit lisis setelah 1 jam pada suhu ruangan)
                DD: trama pungsi vs hemorhagi subarakhnoid
l  Nilai rujukan normal jumlah lekosit (monosit dan limposit) adalah
–        Anak & dewasa : 0 – 5 sel/ul
–        neonatus 0 – 30 sel/ul
                                                                                                ----------à Tidak Dilakukan
Analisa Laboratorium Jumlah Leukosit
l  Metode : bilik hitung Improved Neubauer
l  Prinsip : LCS diencerkan dalam perbandingan tertentu dan lekosit dihitung dalam volume tertentu.
l  Alat yang dipakai :
–        Pipet lekosit
–        Bilik hitung Improved Neubauer
–        Tabung reaksi kecil
–        Mikroskop
l  Reagen yang dipakai : larutan Turk
l  Tata cara pemeriksaan
–        Kocoklah dengan perlahan-lahan LCS yang akan diperiksa.
–        Isaplah larutan Turk dengan pipet lekosit sampai tanda 1 (satu).
–        Kemudian LCS dihisap sampai tanda 11 dan seterusnya dikocok.
–        Letakkan kaca penutup di atas bilik hitung.
–        Larutan LCS yang ada dalam pipet lekosit dibuang antara 2-3 tetes, kemudian diteteskan pada bilik hitng hingga bidang-bidang pada bilik hitung terisi. Diamkan lebih kurang 5 menit dalam posisi datar.
–        Kemudian diperiksa dalam mikroskop cahaya dengan pembesaran lensa obyektif 10 X
–        Hitung semua lekosit yang terdapat pada 9 (sembilan) bidang besar.
PEMERIKSAAN KIMIA
l  Analisa kimia LCS à membantu diagnosis / menilai prognosis. Pemeriksaan rutin :
–        penetapan protein secara kualitatif
–        kadar protein
–        kadar glukosa
ANALISA LABORATORIUM PROTEIN KUALITATIF
l  Keadaan normalà cairan otak mengandung sedikit sekali protein (BM besar).
l  Perbandingan antara albumin dan globulin > LCS daripada dalam plasma (molekul albumin >kecil)
l  Konsentrasi protein ↑ :
–        Permeabilitas sawar darah-otak ↑ oleh radang
–        Meningitis yang berat
A. TEST PANDY
l  Prinsip : reagen pandy memberikan reaksi terhadap protein (albumin dan globulin) dalam bentuk kekeruhan. Pada keadaan normal tidak terjadi kekeruhan atau kekeruhan yang ringan seperti kabut.
l  Alat dan reagen yang dipakai
–        Tabung serologi (garis tengah 7 mm)
–        Kertas putih
–        Reagen Pandy (larutan phenol jenuh dalam air)
l  Tata cara pemeriksaan :
–        Ke dalam tabung serologi dimasukkan 1 ml reagen Pandy
–        Tambahkan 1 tetes LCS
–        Kemudian dilihat segera ada tidaknya kekeruhan.
l  Tata cara pembacaan hasil
–        Negatif : tidak ada kekeruhan
–        Positif : terlihat kekeruhan yang jelas
•          +1           : opalescent (kekeruhan ringan seperti kabut)
•          +2           : keruh
•          +3           : sangat keruh
•          +4           : Kekeruhan seperti susu
Nilai normal          : (-) / (+1)
TEST NONNE APELT
l  Prinsip : reagen Nonne memberikan reaksi terhadap protein globulindalam bentuk kekeruhan yang berupa cincin. Ketebalan cincin àberhubungan dengan kadar globulin, makin tinggi kadarnya maka cincin yang terbentuk makin tebal.
 Alat dan reagen yang dipakai :
–        Tabung serologi (garis tengah 7 mm)
–        Reagen Nonne (larutan ammonium sulfat jenuh dalam air)
l  Tata cara pemeriksaan :
–        Ke dalam tabung serologi dimasukkan 1 ml reagen Nonne
–        Tambahkan 1 ml LCS dengan cara pelan-pelan sehingga terbentuk 2 lapisan, di mana lapisan atas adalah LCS. Diamkan selama 3 menit.
–        Kemudian dilihat pada perbatasan kedua lapisan dengan latar belakang gelap.
l  Tata cara pembacaan hasil :
–        Negatif : tidak terbentuk cincin antara kedua lapisan
–        +1 : cincin yang terbentuk menghilang setelah dikocok (tidak ada bekasnya).
–        +2 : setelah dikocok terjadi opalesensi
–        +3 : mengawan setelah dikocok
l  Normal : (-)
GLUKOSA
l  Menyusutnya kadar glukosa dalam LCS à meningitis purulenta (metabolisme leukosit & bakteri ↓ kadar glukosa à 0).
l  Semua mikroorganisme menggunakan glukosaà pe↓ kadar glukosa dapat disebabkan oleh : fungi, protozoa, bakteri tuberculosis, dan bakteri piogen.
l  Meningitis oleh virus à sedikit me↓ kadar glukosa dalam LCS.
ASAM LAKTAT
l  Konsentrasi asam laktat à aktifitas glikolisis setempat.
l  Kadar asam laktat > 35 mg/dl àjarang terjadi kecuali pada meningitis oleh bakteri atau fungi.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :